Langsung ke konten utama

Postingan

Wartawan Jangan Berbagi Berita, Awas Kartu Kompetensi Dicabut

Mulai hari pertama berkarya selaku wartawan pada 25 tahun silam sampai hari ini, aku tidak pernah menjiplak karya fotografi jurnalistik atau karya tulis orang lain, bahkan walaupun hanya satu kalimat. Aku membenci penjiplak seperti membenci koruptor, karena keduanya sama-sama maling.

Tenaga Ahli Jurnalistik

Seorang aparatur pernah menawariku kerja sebagai tenaga ahli jurnalistik di lembaga pemerintah pada tahun lalu. Tugasku membantu mereka mengelola informasi yang disiarkan lewat media yang mereka miliki: situs web, radio, media cetak, dan akun-akun media sosial. Selain itu, juga membantu mereka secara khusus dalam hal fotografi dan siaran pers.

Kalimat yang Takbaik dan Takbenar

Kalimat yang baik (pragmatikal) dan benar (gramatikal) dapat dipelajari antara lain dengan menemukan kesalahan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang tengah kaubaca. Berikut lima belas contoh kalimat bahasa Indonesia yang takbaik dan takbenar beserta koreksinya. Beberapa koreksi kutulis samar-samar dengan gaya bahasa satire.

Mendetoks Racun Medsos

Kegemaran banyak orang akan media sosial dan ponsel pintar sebenarnya takganjil, karena sebagai makhluk sosial dia secara kodrati selalu bernafsu untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk lewat internet. Yang jadi perkara: manakala penggunaan medsos dan gawai mengakibatkan iritasi sosial atau pembohongan publik.

Jatuh Cinta kepada Wartawan

Aku minggat dari rumah namboru, saudari ayahku, di Ternate, Maluku Utara. Pada pukul 05.30 aku melompat melalui pagar beton rumah kemudian bergegas ke pelabuhan untuk menumpang kapal samudra Umsini selama lima hari menuju ke Belawan, Sumatra Utara. Waktu itu aku masih remaja kencur, baru satu tahun duduk di bangku SMA, dan baru lulus ujian kenaikan kelas. Semenjak bersekolah di Ternate mulai kelas II SMP aku tidak kerasan tinggal di rumah tanteku itu karena dipaksa berdisiplin. Aku melawannya dengan berkali-kali bolos sekolah. Pernah selama beberapa hari aku mangkir, tidak pulang ke rumah tanteku, tidur di tangsi kodim di rumah Wawan, sahabatku di sekolah dan di dojo karate. Pada akhirnya aku hengkang dari Ternate dan kembali ke kampung halaman di Balige, Toba Samosir, supaya bisa bertindak sendiri sebebas-bebasnya​.