Langsung ke konten utama

Jatuh Cinta kepada Wartawan


Aku minggat dari rumah namboru, saudari ayahku, di Ternate, Maluku Utara: pukul 05.30 pagi aku melompat melalui pagar beton rumah kemudian bergegas ke pelabuhan untuk menumpang kapal samudra Umsini selama lima hari menuju ke Belawan, Sumatra Utara.

Waktu itu aku masih remaja kencur, baru satu tahun duduk di bangku SMA, dan baru lulus ujian kenaikan kelas. Semenjak bersekolah di Ternate mulai kelas II SMP aku tidak kerasan tinggal di rumah tanteku itu karena dipaksa berdisiplin. Aku melawannya dengan berkali-kali bolos sekolah. Pernah selama beberapa hari aku mangkir, tidak pulang ke rumah tanteku, tidur di tangsi kodim di rumah Wawan, sahabatku di sekolah dan di dojo karate. Pada akhirnya aku hengkang dari Ternate dan kembali ke kampung halaman di Balige, Toba Samosir, supaya bisa bertindak sendiri sebebas-bebasnya​. Sejak kanak-kanak aku memang keras kepala. Semasih di sekolah dasar aku nakal sekali, tapi kedua orang tuaku tidak pernah memarahiku walaupun mereka tahu aku suka berjudi, merokok, bahkan menonton film panas di bioskop dengan uang yang kucuri dari laci restoran kami.

Setiba di Balige aku tidak bernafsu lagi meneruskan sekolah. Aku pergi ke Padang, Sumatra Barat, tinggal di rumah namboru-ku yang lain, kakak tertua ayahku. Di sana saban hari aku hanya asyik mengerjakan hobi: berlatih karate, mengoleksi kaset lagu, memetik gitar dan menyanyi di kamar, berkorespondensi dengan sahabat pena, membaca majalah, menulis cerpen dan puisi, dan menulisi catatan harian—kali pertama aku memiliki jurnal saat masih duduk di bangku kelas VI SD setelah membaca majalah Bobo dan buku cerita serial petualangan Lima Sekawan yang dibawa saudara sepupuku dari Kota Pematangsiantar.

Selama di Padang aku punya satu buku jurnal, yang lembaran kertasnya halus dan banyak, dengan sampul biru malam. Di dalamnya aku menulis pelbagai kritik: mengecam tabiat kerabat, “mempermasalahKEN” tirani “daripada” Presiden Soeharto, mempertanyakan eksistensi Tuhan. Aku juga menempelinya dengan guntingan berita koran dan majalah mengenai dunia tulis-menulis, kewartawanan, tata bahasa Inggris dan Indonesia, fotografi, serta seni bela diri. Di antaranya ada satu kliping yang mengilhamiku untuk bercita-cita menjadi jurnalis: tentang film The Killing Fields (1984), yang kuperoleh dari—kalau aku takkhilaf—majalah bulanan Jakarta Jakarta. Film dengan tokoh utama wartawan tersebut diangkat dari kisah nyata genosida yang dilakukan rezim komunis Khmer Merah terhadap dua juta orang warga negara Kamboja, yang tengkoraknya ditemukan dalam ribuan kuburan di ladang padi:

Pada tahun 1973 Sydney Schanberg, wartawan surat kabar Amerika Serikat The New York Times, pergi meliput perang saudara antara tentara Pemerintah Kamboja dan pemberontak komunis Khmer Merah. Di sana ia dibantu seorang wartawan Kamboja, Dith Pran, yang menjadi juru bahasa, juru kemudi, dan sekaligus juru selamat bagi Schanberg. Suatu hari Pran, Schanberg, dan beberapa jurnalis media Barat ditangkap oleh serdadu Khmer Merah yang sedang berpatroli dengan senjata siap tembak. Mereka dibawa dan ditahan untuk dieksekusi mati. Namun, dengan kalimat-kalimat yang terucap sangat cepat dari mulutnya Pran berhasil membujuk laskar komunis untuk membebaskan kawanan pewarta. Tahun 1975 Phnom Penh makin rusuh takterkendali. Khmer Merah membunuh ribuan cendekiawan, seperti dosen, dokter, pengacara, bahkan menteri. Karena itu, semua warga negara asing, termasuk pejabat kedutaan, mulai meninggalkan Kamboja. Schanberg lebih dahulu menyelamatkan anak-anak​ dan istri Pran ke Amerika. Dua minggu kemudian Schanberg berangkat dengan berat hati karena tidak bisa membawa Pran. Ia sebenarnya sempat menukangi paspor palsu bagi Pran tetapi gagal, karena cairan kimia pengembang klise tidak berfungsi dengan baik sehingga pasfoto Pran tidak tercetak. Wartawan Kamboja itu pun ditangkap Khmer Merah. Agar tidak dibunuh, Pran menyamar sebagai petani dan berlagak pilon. Ia bertahan hidup dalam penderitaan sebagai tahanan kerja rodi di sawah dan menyaksikan prajurit komunis membunuh tahanan lain dengan menancapkan pacul ke kepala. Setelah empat setengah tahun ia akhirnya berhasil melarikan diri dan menyelamatkan seorang anak dengan memintas hutan menuju ke perbatasan Thailand. Wartawan Sydney Schanberg terbang dari Amerika untuk menjemput Pran. Hingga akhir hayatnya​ Pran bekerja sebagai wartawan foto The New York Times.

Aku takjub akan persahabatan kedua wartawan tersebut dan kegigihan mereka mengungkap fakta dengan pena dan kamera. Wartawan adalah pekerjaan yang mulia, aku berbatin kala itu, karena tugas wartawan membela kebenaran dan hak asasi manusia. Aku menulis dalam buku harianku bahwa aku mesti kembali bersekolah dan kemudian kuliah publisistik. Cita-cita: novelis wartawan.

Sejak hari itu aku benar-benar jatuh cinta kepada profesi wartawan, jurnalis idealis, dan makin bertekun mengumpulkan informasi yang bertalian dengan jurnalisme.

Setelah “libur panjang” satu tahun di Padang aku pulang ke kampung. Aku masuk kelas II di SMA Negeri 1 Balige dan bisa beroleh nilai bagus, bahkan menjadi juara kelas, walaupun terlambat dua bulan mengikuti tahun ajaran baru. Aku menyukai semua mata pelajaran kecuali matematika. Pada awal masuk sekolah aku menjumpai seorang guruku dan mengatakan, “Pak, aku tidak suka matematika. Kalau ada PR, Bapak tidak usah memeriksa buku tulisku, karena tidak akan kukerjakan.” Sepulang sekolah aku melatih di dojo karate. Malam harinya​ aku ke studio radio AM milik pemerintah daerah untuk menyiarkan lagu-lagu populer. Tiap pukul 04.00 pagi aku sudah bangun untuk membaca buku paket, khususnya pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dan kamus. Tiada satu hari pun yang kupercumakan. Aku bergiat belajar demi meraih cita-cita menjadi wartawan. Aku sama sekali bukan lagi Jarar anak-anak yang nakal.

Setamat SMA aku pergi ke Medan dengan niat hendak kuliah. Aku membeli sedikitnya sepuluh buku jurnalistik dan buku fotografi. Dari bacaan itu aku terheran-heran mengetahui bahwa ternyata titel sarjana tidak diperlukan untuk menjadi wartawan, dan banyak jurnalis termasyhur yang mempelajari jurnalisme secara autodidaktik, bukan dengan berguru di kampus. Aku jadi penasaran.

Berbekal pengetahuan yang pas-pasan akan nilai berita, unsur berita, struktur piramida terbalik, dan etik pers, aku nekat menjadi wartawan lepas. Aku memasukkan pulpen, bloknot, alat perekam suara, kamera poket analog, dan dua rol film ke dalam tas bahu; memakai topi dan membawa sebotol air minum; meminjam kereta angin famili dan mengitari Kota Medan setiap hari selama dua minggu; memotret apa saja yang menurutku menarik; menanyai pedagang kaki lima, abang becak, dan polantas dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sebenarnya takpenting dijawab. Aku mencari berita dengan berpeluh-peluh hingga bajuku basah kuyup, tetapi aku takberhasil. Ternyata praktik jurnalistik tidak seenteng teori dalam buku.

“Yang seperti ini bukan berita,” kata seorang redaktur surat kabar Mimbar Umum edisi Minggu, yang kudatangi di kantornya karena beberapa naskah yang kukirim tidak kunjung terbit. Ia memperlihatkan dokumenku yang lain dan berkata, “Kalau yang ini sebenarnya layak jadi feature, tapi masih ada yang perlu kaulengkapi.” Aku menyimak dan mencatat arahannya dan menanya ketika ada hal yang kurang kumaklumi. Kemudian aku memberinya naskah cerita pendek yang kutulis dengan mesin tik pada berlembar-lembar folio. Ia membacanya dan lantas mengatakan, “Cerpenmu ini bagus, nanti kuterbitkan.” Ia berpesan agar aku menulis feature, berita khas, dengan kalimat-kalimat tuturan yang meleleh seperti dalam cerpen tersebut.

Aku kembali membeli beberapa buku teknik menulis dan secara khusus mendalami penulisan berita khas. Tiap pagi aku membeli surat kabar terbitan Jakarta untuk mengkliping​ berita khas dan foto jurnalistik serta menakliknya. Dari situ aku membikin sendiri metode praktis mengerjakan reportase berita khas. Aku juga membeli kamera SLR bekas Fujica MPF105 dengan lensa standar 50 mm dari Kim, montir kamera analog di Medan. Aku berlatih menyinkronkan diafragma dengan kecepatan rana kamera.

Setelah punya modal keterampilan jurnalistik dasar, aku berangkat dari Medan ke Sibaganding, tidak jauh dari kota turis Parapat, untuk meliput kehidupan Umar Manik yang tinggal di tengah hutan memberi makan ratusan kera liar. Liputan “Tarzan Batak” yang bertubuh penuh tato itu terbit dalam koran, dan hatiku senang bukan kepalang kendatipun honorarium yang kuterima hanya lima ribu rupiah. Selama beberapa minggu berikutnya karya jurnalistikku makin sering muncul dalam edisi Minggu surat kabar Medan.

Ternyata benar: aku bisa menjadi wartawan walaupun nirgelar sarjana. Aku pun mengurungkan keinginan kuliah.

Aku pulang ke Balige setelah satu koran harian Medan menerima lamaranku sebagai reporter untuk wilayah liputan Kabupaten Tapanuli Utara. Pada mulanya ayahku tidak berkenan aku menjadi wartawan, karena menurut dia, “Wartawan kerjanya memeras,” tetapi aku meyakinkan dia bahwa aku akan menjadi jurnalis yang lurus. Tarikh hari itu Oktober atau November 1994, masa awal tugasku sebagai reporter daerah.

Dua tahun pertama aku jadi wartawan adalah masa yang menyakitkan. Atas keluguanku aku sering dipojokkan, ditindas, diperalat oleh wartawan senior dan politikus. Aku diancam perwira polisi yang kukritik dalam berita. Gerombolan preman, yang membawa golok dalam mobil, menyatroni rumah orang tuaku untuk menghabisiku atas suruhan oknum anggota DPRD, dan tidak ada satu pun rekan wartawan yang membela atau menyemangatiku. Sebaliknya, pernah dalam acara publik yang dihadiri warga di halaman Polsek Balige pada suatu malam seorang wartawan mengatakan dalam pidatonya: “Yang sah sebagai wartawan hanyalah anggota PWI. Yang sedang memotret di sana itu bukan anggota PWI, boleh Pak Kapolsek tangkap!”

Mata hadirin tertuju kepadaku. Aku jadi malu dan ingin marah. Aku berhenti memotret, berdiri mematung satu atau dua menit, kemudian pulang serasa bayang-bayang. Malam itu di kamarku aku memutar kaset Metallica. Volumenya kutinggikan. Aku mengingat-ingat berbagai tekanan yang kualami sebagai wartawan pemula. Mentalku tiba-tiba lemah. Aku tidak sanggup lagi menahan tangis. Kubiarkan air mataku bercucuran ketika aku menangkupkan kedua tangan menutupi wajahku dan berdoa dengan suara yang pelan tersedu-sedu: “Tuhan…aku tidak mau berhenti jadi wartawan. Tolong aku, Tuhan…tolong kuatkan aku…kuatkan aku…”

Pada zaman itu masyarakat masih takut mengkritik kapolres, bupati, camat, bahkan kepala desa, karena semua aparatur di daerah adalah kepanjangan tangan Golkar dan Presiden Soeharto. Rezim Orde Baru masih berkuasa mengekang kebebasan pers melalui Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Dewan Pers, dan Menteri Penerangan “hari-hari omong kosong” Harmoko.

Di Kecamatan Balige, yang saat itu masih merupakan bagian wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, hanya ada lima wartawan aktif selain aku. Mereka semua anggota PWI berumur 40-an dan 50-an tahun, sedangkan aku bukan anggota PWI dan belum genap berusia 20 tahun saat menjadi wartawan. Biarpun mereka sudah lama bekerja di koran-koran​ harian terbitan Medan, kemampuan jurnalistik mereka hanya setingkat wartawan kemarin sore: menulis berita seremonial, menjiplak siaran pers, memuji-muji pejabat. Mereka tidak punya idealisme dan literasi media. Jangankan menulis berita khas 800 kata, menulis teras 25 kata yang menarik pun tidak mampu. Jangankan merangkai kalimat-kalimat​ yang runtut, menggunakan koma dan huruf kapital pun marsamburetan, semrawut. Setiap hari mereka meliput ke kantor kecamatan, polsek, kepala desa, atau sekolah, tetapi beritanya terbit hanya satu dalam seminggu, dan itu pun cuma “berita bungkus rokok” di halaman dalam. Sebaliknya, aku lebih suka menulis keluhan rakyat terhadap pejabat; beritaku terbit saban hari dan sering di halaman depan; tema feature-ku kontroversial dan belum pernah diekspos reporter daerah.

Aku berani menulis berita yang masih dianggap sebagai tabu pada masa itu, dan hampir tiap pekan ada saja tulisanku yang bikin heboh. Aku pernah memberitakan oknum sintua gereja yang memerkosa perempuan bersuami sepulang dari latihan kor Natal pada malam hari di semak di pinggir jalan suatu desa terpencil. Aku mewawancarai sintua itu dan memotretnya. Aku pernah mengkritik Ketua Pemuda Pancasila (PP) Provinsi Sumatra Utara terkait dengan premanisme. Masih kuingat pertanyaan pertama yang kuajukan kepadanya ketika ia berkunjung ke Balige: “Apa tanggapan anda tentang pelesetan PP sebagai perkumpulan preman?” Aku pernah mengecam pelaksanaan Kirab Remaja Nasional yang dipimpin langsung oleh Mbak Tutut, putri Presiden Soeharto, di Balige. Aku pernah membeberkan kecurangan Golkar dalam pemilu, dosa-dosa perusahaan raksasa PT Inti Indorayon Utama, tabiat oknum polisi yang memeras pejudi dan pelanggar hukum, kemunafikan PWI yang memihak kepada pemerintah, dan masih banyak lagi.

Mulai hari pertama aku berprofesi wartawan, aku senantiasa mencintai pekerjaanku dengan segenap hatiku, dan aku selalu berikhtiar menunaikan jurnalisme dengan idealisme: prinsip yang kemudian hari membesarkan namaku dan sekaligus menyusahkan kehidupanku hingga hari ini.❖

Balige, 16 Desember 2017
Jarar Siahaan


Memoar ini adalah penggal pertama kisah perjalanan karierku sebagai wartawan. Bila-bila aku akan menulis lanjutannya bila aku berselera.