Langsung ke konten utama

Mendetoks Racun Medsos


Kegemaran banyak orang akan media sosial dan ponsel pintar sebenarnya takganjil, karena sebagai makhluk sosial dia secara kodrati selalu bernafsu untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk lewat internet. Yang jadi perkara: manakala penggunaan medsos dan gawai mengakibatkan iritasi sosial atau pembohongan publik.

Di beberapa kota di Indonesia pernah diberitakan bahwa makin banyak suami istri bercerai gara-gara berselingkuh dengan temannya di Facebook, dan di Inggris serta Amerika Serikat pun terbit hasil riset yang sama. Aku yakin engkau juga pernah merasakan atau menyaksikan dampak negatif media sosial terhadap hubungan antarpribadi teman-temanmu.

Ada remaja memusuhi teman sekolahnya karena temannya itu pelit “memberi jempol” pada status Facebook-nya. Ada ibu-ibu rumah tangga cekcok lantaran yang satu rajin mengunggah status dukungan terhadap Prabowo sedangkan temannya mati-matian membela Jokowi. Pernah kubaca di Google+ atau Twitter: dua laki-laki dewasa, karyawan di kantor yang sama, dan rumahnya pun bersebelahan, menjadi takberteman dan tidak lagi bersapaan hanya karena masalah komentar dan tombol “suka” di media sosial.

Menurut psikiater dan akademikus psikologi, kecanduan media sosial dan gawai digital berdampak buruk bagi kesehatan mental. Banyak orang yang takmampu mengendalikan dirinya bermedsos akhirnya mengalami gangguan jiwa.

Di Twitter ada orang awam bercemas berlebihan: tiap hari dia nimbrung mengomentari apa saja yang melintas di lini masa dan mengkritik segala lini kehidupan bangsa, mulai ihwal homoseks, agama, undang-undang, korupsi, proyek APBD, pilkada, Ahok, Rizieq Shihab, dan reaktor nuklir Korea Utara hingga harga cabai keriting, seakan-akan dia lebih peduli daripada Jokowi memikirkan masa depan Indonesia. Di YouTube orang menggandrungi informasi viral meski palsu dan takakurat. Di Instagram perempuan memamerkan foto-foto kebahagiaan semu, dan gadis lain yang melihatnya terjebak dalam pikirannya sendiri, “Aku pun bisa lebih modis, lebih cantik daripada dia.” Dan di Facebook laki-laki penipu menampakkan kepribadian yang berbeda dengan kesehariannya di dunia nyata.

Begitulah akibatnya kalau saban hari orang memboroskan perhatiannya untuk media sosial, dan membelai ponselnya di meja restoran hingga memeluknya di tempat tidur. Ponsel-berinternet seolah-olah menjadi agamanya, dan media sosial menjadi tuhannya.

Pada hakikatnya semua media sosial bersifat adiktif. Ia mengandung toksin yang menjadikan orang pencandu ekstrem. Berikut kesaksian Sean Parker, presiden pertama Facebook, salah satu orang terkaya di dunia versi Forbes, seperti dikutip BBC Indonesia:

“Dasar pikiran untuk membangun aplikasi ini […] ‘Bagaimana kita menghabiskan waktu Anda dan perhatian Anda sebanyak-banyaknya?’ Itu artinya kami perlu membuat Anda kecanduan dari waktu ke waktu, yang diakibatkan orang menyatakan suka pada unggahan Anda, atau memberikan tanggapan, apa saja. Dan itu akan membuat Anda menambah konten lagi, seterusnya membuat Anda memperoleh lebih banyak lagi like dan komentar.”

Menurutku racun yang membikin khalayak mencandui media sosial ialah notifikasi, dan obat penawarnya sesungguhnya ada pada ujung jempol kita: “nonaktifkan!” Itulah yang kulakukan, mematikan fitur pemberitahuan push notifications, sejak kali pertama aku membuat akun media sosial bertahun-tahun silam. Aku mendetoksifikasi racun medsos dengan menerapkan sensor ketat pada settings, pengaturan privasi akun-akunku, dan membatasi jumlah “teman”.

Teman di Facebook-ku takkan lebih dari 200 orang, dan sampai hari ini aku punya hanya 48 teman. Ada banyak permintaan pertemanan di Facebook, termasuk dari adik-adikku, yang tidak atau belum kuokekan. Di Twitter aku sama sekali tidak mengikuti akun media pers, dan akun orang yang kuikuti pun hanya 40 akun dan tidak akan lebih dari 200 akun.

Notifikasi yang kuizinkan muncul pada bagian atas layar ponsel Android-ku hanyalah pesan WhatsApp dan kotak masuk surel. Dalam seminggu aku menerima paling-paling hanya tiga pesan WhatsApp dari kawan dekat dan kawan sejawat. Aku menonaktifkan semua pemberitahuan dari aplikasi Twitter dan Facebook, termasuk notifikasi komentar dan notifikasi “suka” pada status. Dengan begitu, aku tidak terganggu dan takperlu tempo-tempo melihati layar ponsel kemudian membuka aplikasi Facebook atau Twitter.

Di internet aku lebih sering meramban laman situs-situs web dan membaca artikel-artikel panjang ketimbang bermain medsos. Manakala aku membuka aplikasi Facebook atau Twitter, lamanya tidak lebih dari setengah jam, bahkan sering hanya sekelebat mata, dan tidak semua komentar kutanggapi, dan aku menghindari perbalahan dengan maniak agama, penjilat politik, dan “kaum katak di bawah tempurung”.

Aku juga terheran-heran melihat orang yang bukan pedagang daring tapi takletih mengecek akun-akun medsos lewat ponselnya setiap setengah jam, bahkan setiap beberapa menit, dan, yang lebih ajaib, pengguna Facebook yang sanggup “berteman” dengan ribuan orang, dan pengguna Twitter yang takpusing mengikuti puluhan ribu akun. Aku membayangkan seandainya ponselnya tiba-tiba kesurupan.❖

Balige, 27 Desember 2017
Jarar Siahaan