Langsung ke konten utama

Kalimat yang Takbaik dan Takbenar


Kalimat yang baik (pragmatikal) dan benar (gramatikal) dapat dipelajari antara lain dengan menemukan kesalahan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang tengah kaubaca. Berikut lima belas contoh kalimat bahasa Indonesia yang takbaik dan takbenar beserta koreksinya. Beberapa koreksi kutulis samar-samar dengan gaya bahasa satire.

Pada bulan Desember, empat tahun yang lalu, kami bertemu di pantai Danau Toba. Penggunaan kedua tanda baca koma dalam kalimat di atas salah, tidak perlu.

Carilah pacar yang sesuai tabiatmu yang jahat. Kalimat yang benar menggunakan “sesuai dengan”: Carilah pacar yang sesuai dengan tabiatmu yang jahat.

Kapolres yakin bahwa tersangka pelaku penipuan lewat Facebook itu mungkin memiliki lebih dari lima akun palsu. Aku takyakin siapa yang berbohong: mungkin Kapolres atau mungkin juga wartawan si penulis kalimat. Awalnya sudah “yakin”, tetapi kemudian masih “mungkin”?

Saya sulit sekali menjawab soal-soal bahasa Indonesia ini. Yang sulit menurut makna kalimat itu: “saya”. Sebenarnya yang dimaksud ialah Soal-soal bahasa Indonesia ini sulit sekali saya jawab.

Aku sedikit bingung membaca SMS-mu barusan. Aku juga bingung membaca kalimatmu, karena setahuku tidak ada “banyak bingung”.

Dia mengucapkan selamat ulang tahun kepada mantannya. Mantannya? Mantan apa? Mantan sopir pribadi? Mantan istri? Mantan pacar?

Gaya bicara juru khotbah itu seakan dia sudah pernah singgah di neraka. Sejak kapan ada kata seakan dalam bahasa Indonesia? Itu sih biar kalimatku lebih efisien saja. Gaya kalimatmu seakan-akan engkau penyair karbitan yang suka berkelit di balik licentia poetica.

Di media massa mana pun, baik koran daerah ataupun televisi nasional, ada wartawan pemeras. Pasangan konjungsi korelatif yang benar ialah “baik…maupun…”, bukan “baik…ataupun…”.

Rambut saya bertambah pendek sekarang. Moga-moga besok rambutmu sudah bertambah panjang.

Jarar Siahaan mengatakan bahwa pekerjaan yang “paling sulit dan sekaligus paling gampang” ialah menjadi wartawan media cetak. Dalam kalimat itu verba “menjadi” tidak perlu.

Ayah Budi termasuk seseorang yang berpengaruh di kampung ini. Yang benar: “orang” atau “seorang”. Nomina seseorang dipakai apabila identitasnya takdikenal.

Dia tidak rela untuk meninggalkan sahabatnya yang baik hati itu. Kata “untuk” dalam kalimat di atas salah, takperlu dipakai. Frasa verbal “tidak rela” merupakan predikat kalimat, dan klausa “meninggalkan sahabatnya yang baik hati itu” berfungsi sebagai objek taklangsung. Unsur predikat dan unsur objek tersebut tidak boleh dipisahkan dengan partikel “untuk”.

Jangan tulis tanda baca koma, yang takperlu dalam kalimatmu. Seperti juga koma dalam kalimatmu itu, bukan?

Guru memanggil murid baru itu dan ditampar karena merokok di kantin sekolah. Kalimat tersebut tidak masuk akal: yang ditampar ialah guru, dan yang merokok di kantin juga si guru. Kalau engkau bersikeras bahwa kalimat itu sudah benar, gramatikal, berarti engkau tidak mengerti kaidah sintaksis kalimat majemuk.

Masalahnya adalah sederhana. Kalimat yang baik dan benar: Masalahnya sederhana.

Balige, 6 Januari 2018
Jarar Siahaan


Ada dua hal yang tidak dimiliki oleh binatang tetapi dimiliki oleh manusia: rasa malu dan bahasa.