Langsung ke konten utama

Wartawan Jangan Berbagi Berita, Awas Kartu Kompetensi Dicabut

Jarar Siahaan wartawan independen jurnalisme naratif LAKLAK id

Mulai hari pertama berkarya selaku wartawan pada 25 tahun silam sampai hari ini, aku tidak pernah menjiplak karya fotografi jurnalistik atau karya tulis orang lain, bahkan walaupun hanya satu kalimat. Aku membenci penjiplak seperti membenci koruptor, karena keduanya sama-sama maling.

Kalau engkau wartawan, cobalah baca Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik, “Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik,” dan salah satu butir dalam penafsiran pasal tersebut, “tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri.”

Khusus kepada sejawat wartawan yang telah memegang sertifikat dan kartu dari Dewan Pers sebagai tanda lulus uji kompetensi wartawan (UKW), aku mengimbau janganlah sekali-kali menyadur, apalagi menyalin tempel, berita dari media lain. Begitu pun sebaliknya, jangan membagikan naskah beritamu atau foto jepretanmu kepada wartawan lain. Pikirkan risikonya bagi karier jurnalistikmu.

Menurut peraturan sertifikasi Dewan Pers, wartawan yang melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik kewartawanan akan dicabut sertifikat dan kartunya, dan dia tidak boleh lagi mengikuti UKW selama-lamanya. Salah satu pelanggaran berat dimaksud ialah plagiarisme. (Silakan baca ulasanku tentang masalah itu di www.laklak.id.)

Sekarang era keterbukaan, zaman internet. Jangan sampai ada warganet membaca beritamu yang sama atau mirip dengan berita dalam koran lain, lalu dia memfoto dan mengunggahnya ke Facebook, dan redakturmu melihatnya, atau ada orang yang melaporkannya kepada Dewan Pers. Kalau ternyata wartawan lain menjiplak karyamu, engkau selamat. Kalau engkau yang menjiplak? Bacalah klausa utama di ujung artikelku ini.

Tahun 2000, ketika menjabat redaktur harian milik grup Jawa Pos, aku pernah menemukan tiga berita karya salah satu reporterku hampir sama isinya dengan berita pada beberapa koran besar di Medan. Aku mengatakan kepada pemimpin redaksiku, Choking Susilo Sakeh, bahwa aku perlu memanggil reporter kabupaten itu ke kantor, dan dia setuju.

Hasilnya, ternyata reporterku tidak menjiplak, tetapi justru beritanya sering dijiplak oleh wartawan koran-koran lain. Dia menunjukkan bukti-buktinya kepadaku. “Karena aku masih wartawan pemula, Bang, aku tidak berani menolak setiap mereka minta kertas faks beritaku,” katanya. Dia berjanji takkan membagikan laporannya lagi kepada wartawan lain. Aku bilang kepadanya jangan seperti wartawan kebanyakan. Karya jurnalistik adalah karya intelektual. Makanya plagiarisme itu dosa besar dalam dunia tulis-menulis.

Pada kesempatan lain, dalam rapat di kantor redaksi hampir dua puluh tahun silam itu, pemred Choking Susilo Sakeh pernah berkata kepada para reporter: “Kalian jangan cuma jadi wartawan yang biasa-biasa saja. Harus bisa menulis feature atau berita eksklusif yang tidak ada di koran lain. Tirulah Jarar.”

Beberapa tahun silam, saat menjabat pemimpin redaksi sebuah koran mingguan, aku pernah meminta pemilik koran memecat seorang redaktur yang terbukti menjiplak. Tidak tanggung-tanggung, dia memplagiat beberapa artikel tentang ulos Batak dari sejumlah situs web, salah satunya artikel Monang Naipospos di Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatra Utara, dan menggabungnya menjadi satu artikel sepanjang dua halaman koran. Di bawah judulnya tercantum namanya sendiri sebagai penulis, dan sama sekali tidak ada penyebutan kredit sumber kutipan. Dalam rapat bersama dengan pemilik koran, yang dihadiri beberapa staf redaksi, si redaktur membela diri dengan ucapan yang akan membuat kalian, khususnya wartawan dan penulis profesional, bisa jadi muntah:

“Ini pelecehan Pemred kepada saya. Kerja saya tidak dihargai, padahal saya sudah capek-capek mengumpulkan bahannya dari internet.”

Sekarang dia menjadi reporter koran terbitan Medan, dan sudah lulus uji kompetensi wartawan, sudah punya kartu wartawan muda dari Dewan Pers. Semoga dia sudah bertobat, tidak lagi bangga menjadi tukang jiplak.

Kawan-kawan wartawan yang sudah besertifikasi Dewan Pers, tunjukkanlah sikap profesional dalam mengerjakan tugas jurnalistik. Jagalah martabat sebagai wartawan berkompetensi. Kita mesti bermalu menjiplak karya orang lain. Jurnalis yang punya kartu UKW harus bisa menulis liputan orisinal yang bermutu. Jika tidak, lantas apa yang kaubanggakan, dan apa bedamu dengan wartawan yang belum punya kartu kompetensi dari Dewan Pers? Apabila engkau tidak sanggup, khalayak layak menaruh syak wasangka jangan-jangan engkau hanya sekelas wartawan kaleng-kaleng.❖

Balige, 24 Juli 2019
Jarar F. Siahaan